Kaki yang melangkah, Mata yang melihat dan mulut yang berkomentar di jalan Trotoar



Di pagi hari melangkahkan kaki menuju arah Sarinah, kaki ini sudah disambut dengan Trotoar yang tidak rata sudah terbiasa harus memilah dan memilih dijalan trotoar sisi stasiun kereta "Commuterline" Gondangdia kadang harus berhati-hati lagi berjalan di sisi trotoar karena sering ada tunawisma yang mangkal di sisi trotoar jalan, duduk dijalanan sambil menaruh gelas bekas kemasan air mineral untuk dijadikan wadah uang sedekah para pengguna jalan trotoar.

Terdengar beberapa sapaan hangat para jasa bikers komersil yang biasa di sebut ojek inilah beberapa sapaan mereka "Kak ojeg kak?, bang ojeknya bang?, bu ojek? pak ojek?" sambil melambaikan tangan ke para calon pengguna ojek, kadang para calon pengguna ojek hanya dengan menundukkan kepala dan tangan dadah ke para tukang ojek mengisyaratkan menolak penawaran dari tukang ojek. Kita bisa melihat para tukang ojek memarkir sepeda motor mereka dengan leluasa di Sepanjang Trotoar jalan milik para pejalan kaki yang biasa menggunakannya untuk berjalan menuju tempat mereka bekerja belum lagi ditambah dengan warung kelontong yang sudah lama berdiri di trotoar jalan entah sejak kapan warung kelontong itu berdiri dan berdagang di sana padahal jelas sekali tempat mereka memarkir dan berjualan itu berada di trotoar yang sudah pasti menggangu para pengguna jalan trotoar tersebut. 

Entah kenapa para pejalan kaki juga menikmati keberadaan atau sudah terbiasa juga dengan keberadaan mereka?. Keberadaan ojek dan warung kelontong yang berada di  trotoar untuk beberapa pejalan kaki mungkin menguntungkan ketika para pejalan kaki merasa terlambat dengan jam kerja kantornya dengan menyewa jasa ojek dapat mempersingkat waktu menuju tempat bekerja dan warung kelontong yang berada di trotoar menguntungkan para tukang ojek yang berada juga di trotoar dengan menyediakan segalas kopi hangat, jajanan gorengan dan beberapa merek rokok untuk menyambut para tukang ojek bekerja di tambah dengan para pemilik mobil pribadi yang memarkir keluar dari batas parkir yang disediakan ini sering di temukan di depan perkantoran dan juga restoran yang tidak cukup memiliki lahan untuk parkir kendraan roda empat sehingga mengganggu para pejalan kaki yang menggunakan trotoar. 

Tidak jarang bahkan sering kita melihat para pejalan kaki keluar dari troatoar yang sudah di sediakan untuk menghindari parkir mobil yang sembarang, mau tidak mau para pejalan kaki rela berjalan di jalan raya yang isinya kendaraan roda dua dan roda empat yang ngebut untuk cepat sampai ke tempat tujuan ini jelas sekali membahayakan bagi para pejalan kaki. Bahaya karena bisa saja kendaraan roda dua dan roda empat menyerempet pejalan kaki. Ini bagaikan menghindar dari kandang macan masuk kandang buaya, bagaikan memilih minum racun serangga atau memakan batu kerikil, bagaikan berjalan menuju lubang kuburan dan berakhir dineraka tidak ada pilihan yang baik bagi pejalan kaki. Memang sudah serba salah pilihannya bagi pejalan kaki. Bahkan salah satu contoh kejadian fatal dari pengguna roda dua yang menggunakan trotoar sebagai sarana jalan pintas untuk menghindar dari kemacetan, pengguna motor sering tidak sadar membunyikan klakson motor mereka di trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Memangnya sudah tidak cukup besar jalan raya dan merasa trotoar sebagai jalan alternatif ?

Pejalan kaki juga sering berjalan zig-zag untuk menghindari para pedagang makanan cepat saji yang membuka dagangannya tepat berada di trotoar dengan memakai terpal lengkap dengan meja makan serta dapur untuk memasak, tempat cuci piring dan gelas, gerobak pembawa bahan makanan, serta beberapa pegawai makanan cepat saji yang berlalu lalang di trotoar. Mungkin bagi pejalan kaki bukan lagi berjalan di trotoar jalan melainkan sudah seperti berjalan di suatu foodcourt. 

Lelah sudah kaki yang melangkah, mata yang melihat, mulut yang berkomentar atas hak pejalan kaki yang berjalan di trotoar sudah tidak ada bahkan sudah jadi suatu hal yang sangat biasa dan tidak perlu lagi ditindaklanjuti serta hilang sudah hak pejalan kaki dari pengamatan pejalan kaki itu sendiri.









Comments

Popular posts from this blog

"Ananta Prahadi" sudah tersentuh

R.I.S.A.R.A

Tv berita tanpa mereka nampak hampa, 5+ reporter stand upper wanita yang menghiasi layar kaca kamu...