#WanitaMeracau #2 Ada Wanita di balik Profesi Barista

Barista wanita

Belakangan ini banyak sekali wanita di berbagai profesi, yang pernah saya bahas di #WanitaMeracau #1 Bekerja sebagai Camera person karena passion https://www.odyady.ga/2018/03/wanitameracau-1-wanita-meracau-ini.html bernama Meta. Ada wanita di balik profesi Barista, di jaman milenial ini wanita tak hanya jadi ibu bagi anak - anak yang ia lahirkan nantinya tapi wanita zaman sekarang sudah bisa berprofesi sesuai apa yang mereka inginkan, salah satunya sebagai seorang Barista yang umumnya di kerjakan oleh pria. Elok dalam meracik minuman yang berbahan dasar biji kopi, mengenal berbagai biji kopi di Nusantara serta memberikan kenyamanan dalam suasana.

Siang menjelang sore (26/3/2018) dengan udara yang cenderung sejuk karena mendung, di jalan harupat no 9A, babakan. Bogor Tengah Kota Bogor tepatnya Maraca Books and Coffee. Terdapat dua Barista wanita yang sedang on duty di Maraca, sedang asik meracik minuman kopi yang di pesan oleh pelanggan dari Maraca. Di sengaja atau tidak di sengaja terdapat meja dan kursi yang tersambung langsung dengan Bar Barista mungkin fungsi-nya untuk pelanggan yang ingin tahu cara meracik kopi atau sekedar ingin lebih akrab dengan para barista di Maraca. Betul saja meja yang tersambung dengan meja bar barista memang di peruntukkan berkenalan antara pelanggan dan Barista.

Kiri Pipit dan kanan Ajeng

Disini saya berkenalan dengan 2 barista wanita, Ajeng dan Pipit nama kedua barista tersebut, di mulai dengan saya yang memesan coffe latte untuk pancingan dalam sebuah obrolan dengan barista wanita. Pada saat itu Ajeng yang membuatkan coffee latte bermotif tulip. Coffee latte sering saya order apabila sedang di Maraca katanya sih latte berasal dari bahasa Italia yang berarti susu. Memadukan antara espresso dan susu, jumlah kopi tentunya lebih banyak. Busa yang di permukaan biasanya di jadikan karya seni oleh para barista.

"Maaf mas, motif tulipnya gak sempurna, boleh saya buatkan lagi untuk mas agar bagus kalau di foto." gumam Ajeng

Lucu yah, padahal saya kira itu bunga mawar yang masih kuncup, oh ternyata bunga Tulip.

Mungkin cara saya salah ketika ingin mengetahui profil singkat dari Ajeng. Ajeng yang kelihatannya masih sangat muda dan mungkin malu saat saya ingin mengetahui sedikit tentang Ajeng sebagai barista, sontak Ajeng menunjuk Pipit, yang katanya Ajeng si Pipit barista wanita yang lebih senior daripadanya.

Dengan lugunya "mbak pipit aja nih mas, klo mau di tanya - tanya soal barista, dia lebih senior. Dua tahun udah di sini mungkin sudah ada waktu berdirinya Maraca." Hasil dari rekomendasi Ajeng lalu saya meminta izin ke pipit agar mau di tanya - tanya soal Barista.

"mbak, boleh saya tanya - tanya soal barista?"

"boleh kok mas, tapi jangan susah - susah soal pertanyaannya?" jawab pipit

"gak kok mbak paling soal mantan!" ledek saya.
... (bercanda)

Agak canggung atau gimana yah, saat memulai bertanya tentang barista ke pipit, saya tersadar kalau saya itu bukan seorang profesional untuk menanyakan biografi singkatnya dan pipit juga bukan seorang public figure yang siap menjawab. Untuk menghilangkan hawa canggung antara saya dan pipit, terlintas di benak saya gimana kalau kaya ngobrol biasa aja atau kaya orang yang baru kenalan saja yang tertarik dengan pipit, anggap saja ini latihan untuk berani berkenalan dengan orang baru.

"hai, nama lengkap pipit kalau boleh tau siapa ?" dengan pedenya memulai pembicaraan

"hhmm Pipit Sugiarti." Namanya mengingatkan pada penyanyi dangdut lawas yah Rita Sugiarto.

Awal yang sangat membosankan yah untuk mencari celah dalam obrolan. Sekitar  5  menit sudah obrolan antara saya dengan Pipit, tak terasa 5 menit rasanya masih kurang.

Ternyata Wanita yang saya kira orang sunda asli ini, bukan sama sekali orang sunda. Ngawi, jawa Timur asalnya. Salah besar dugaan saya. Lalu wanita yang tidak mau di sebutkan umurnya ini (hihihi) menceritakan sudah dua tahun bekerja sebagai barista wanita di Maraca, tapi Pipit sendiri agak sungkan apabila di bilang Barista. Pipit mengaku bahwa dirinya terjun di Barista itu secara tidak sengaja berawal ingin bekerja dan menghasilkan. Secara ajaib pipit dengan sendirinya bisa meracik kopi arabica atau sekedar meracik Thai tea. Pipit juga mengaku kalau soal Meracik kopi itu belajar secara otodidak.

"Coffee yang banyak di order di Maraca jenis Coffee Arabica karena lebih nyaman di lambung" 
pungkasnya pipit.

"yang nyaman di hati?" sela saya pada pernyataan pipit.

"hati saya kali ahh nyaa..." (lalu tertawa kecil) balas pipit sambil menuangkan biji kopi ke gelas.

Wanita asli Jawa ngapak yang sudah tercampur budaya sunda ini mengakui "soal bahasa sunda bisa seutik tapi kalau sedang berbicara dengan orang tua saya gak berani takut salah arti, kalau sama temen mah bisa atuh" canda pipit.

"Menjadi barista itu harus mencoba semua minuman kopi, yah itu sudah pasti karena suka gak suka harus mencoba semua kopi, itu salah satu cara menjadi barista. Karena barista harus tau rasa dari brewing biji kopi, aroma dan rasanya gimana? secara setiap hari ketemu dengan biji kopi. Biji kopi yang enak menurut saya hmm special bean gayo winey atau gayo honey yang berasal dari Aceh."

Dengan berdetaknya waktu serta para pelanggan dari Maraca sudah silih berganti datang untuk memesan, saya pun berinisiatif untuk meminta foto bareng dengan kedua barista wanita (Pipit dan Ajeng). 

Modusin Barista Wanita :p

Serasa jadi Barista berfoto dengan mereka berdua, padahal yang saya tahu kopi yah cuma kopi sachet bergambar kapal. mentok - mentok ice capuccino :D

26/3/2018
Ady Maulana Rachman, Bogor.
note : Kata Pipit dan Ajeng Maraca baru meyarakan Ulang Tahun yang ke dua di tanggal 25 maret, selamat yah Maraca yang sebentar lagi menjadi dua sebagai hadiah saya berikan buku "Yoris Sebastian - Oh my goodness! buku pintar seorang creative junkie, yang saya titipkan pada Ajeng"

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"Ananta Prahadi" sudah tersentuh

R.I.S.A.R.A