Saya setuju dengan sebutan Jakarta tempat "Tamasya batin"


  Saya senang bermain di suatu tempat, berdiam menatap layar komputer, asalkan seperangkap komputer itu memiliki jaringan internet yang lumayan cepat dan di situ saya senang mencari hal-hal yang berguna buat saya tapi belum tentu buat kalian, iya belum tentu berguna buat kalian.

  Apalagi mencari sesuatu yang sangat saya senangi, sesuatu yang berhubungan dengan sebuah pengalaman seseorang dan pengalaman itu di tuliskan secara virtual, lebih tepatnya sebuah tulisan yang spontan dan jujur sehingga menghasilkan sebuah karya yang di sebut "Puisi, Cerpen, Novel, Esai dan tetek bengeknya" saya senang membacanya.

  Entah sejak kapan saya mengagumi karya - karya seperti itu, memang karya tulis terbaik di dunia ini adalah sebuah kitab suci agama Islam. 
Sudahlah. Tidak ada hubungannya dengan itu.

  Mungkin saya baru saja melihat sedikit celah yang menyilaukan, yah celah itu adalah sebuah link.


  Saya terjebak di sana akhir - akhir ini, membaca berulang - ulang kali. Mencoba mengerti, yah apa boleh buat hanya bisa mengerti tapi tak memahami.

  Dalam tulisannya, di tuliskan kota Jakarta adalah tempat "Tamasya Batin". Saya setuju dan mungkin beberapa orang yang membacanya juga setuju.

  Saya orang yang tidak bagus dalam bercerita dan mengungkapkan langsung secara nyata dan saya telah mencoba untuk itu, mencoba untuk bercerita di banyak orang tapi saya tetap mencoba untuk itu.
Saya ingat kutipan dari sebuah kartun yang saya sukai :

"Orang seperti apapun suatu saat pasti memiliki celah, jadi bersabarlah"

 Bertemu lagi dengan kata "celah" . Ini yang di butuhkan.

  Saya telah mencoba "Tamasya batin" di Jakarta, mendengarkan obrolan - obrolan beberapa dari mereka yang ada di Jakarta. Saya bisa melihat sudut pandang mereka, hanya bisa melihat dan tetap saja tidak bisa merasakannya. Memperhatikan beberapa orang yang sedang menunggu kereta api, di stasiun gondangdia beberapa dari mereka memiliki ekspersi wajah yang unik, hmm tapi kebanyakkan dari yang saya perhatikan sudah terpaku melihat "gadget" mereka masing - masing. Hanya segilintir orang yang termenung, termasuk saya. Termenung memperhatikan mereka yang termenung. Entah apa yang mereka pikirkan saat termenung dan mungkin ada beberapa yang termenung memerhatikan saya yang sedang termenung. 

Aneh yak ? Tamasya Batin itu (heuheuheu).

Mungkin saya belum bisa meng aplikasikan Tamasya batin, Maka dari itu saya ingin sekali bertemu dengan si penulis virtual "Immanuel Adimas".

Dan saya ingin mengucapkan terimakasih, yah hanya ingin mengucapkan terimakasih karena dengan tulisannya ada tamasya yang mengasikkan yaitu :

"Tamasya Batin"

05 Maret 2015
@odyady_




 

Comments

Popular posts from this blog

"Ananta Prahadi" sudah tersentuh

R.I.S.A.R.A