Nyai Dasima "Wanita yang rindu akan orang bangsa (Indonesia) nya sendiri"


Nyai Dasima


"NYAI DASIMA" (JJ RIZAL)

"Nyai hadir, tercatat dalam sejarah dan ia menjadi tema serta motif sastra yang terus-menerus
  mendapat perhatian. Dan cerita Nyai Dasima yang ditulis ulang oleh S.M Ardan dari karya G. Francis yang terbit lebih dari seabad lalu ini lebih dari sekedar suatu cerita tentang tragedy nyai yang ingin kembali ke tengah bangsanya. Ia adalah suatu jalinan kompleks tentang sikap moral di sekitar tema nyai, sikap moral atas identitas kebangsaan vis a vis kejahatan kolonialisme dan bagaimana rust en orde (keamanan dan ketertiban) kolonial diciptakan, ditegakkan sekuat-kuatnya, sejauh-jauhnya."


Menceritakan jaman Betawi pada tahun 1820-an, tepatnya kampung kwitang yang waktu itu masih setengah hutan. Dengan logat khas Betawi, lakon yang di ceritakan kisah cinta segitiga hmm mungkin segiempat deh, antara "Nyai Dasima - Edward Williams - Samiun - Hayati" 

Nyai Dasima berasal dari Kuripan desa kecil di Parung, Bogor dan di bawa oleh Edward Williams ke Kwitang di rumah gedong orang asing serta di per istri piara-kan. singkatnya Nyai Dasima mempunyai anak perempuan bernama Nancy (nenci) hasil dari perkawinan mereka.

Edward Williams orang asing, udah itu aja ah.

Samiun orang asli kwitang anaknya mak Leha "diporotin" terus sama istrinya si Hayati "candu cekian", tapi samiun tetap sabar menghadapi Hayati belum lagi di "palak" sama bang Puase. Intinya si Samiun seorang pribumi juragan delman sekaligus kusir delman yang suka menarik perhatian calon penumpang delmannya "tukang delman yaho, anak kwitang yaho, narik muatan yaho..."

Hayati Istri pilihan babeh nya si Samiun entah kenapa si Hayati berubah yang dulu nya "istri jempol" jadi istri yang "candu cekian" senengnya minta uang terus ke Samiun, berangkat pagi pulang se ingetnya, kalau pulang itu cuma abis kalah maen "cekian". Biasa di panggil "setan ceki"

dengan di tambah karakter lainnya yang menambah seru cerita sejarah Nyai Dasima seperti si Dulo anak buahnya Samiun, Wak lihun seorang "wan" (panggilan kepada peranakan Arab), Mak Buyung dan Mak Leha.

Cerita Nyai Dasima menarik untuk dibaca, menurut saya yang bikin menarik untuk di baca selain cerita cintanya, kata rusak yang sering di komunikasi kan oleh orang jakarta Tempo Doeloe dan buku Nyai Dasima sangat menghibur sekali bagi pembaca nya (baca nya juga pakai logat betawi yah), klo tidak percaya baca sendiri aja deh ya, terselip beberapa cerita curhatan sedih yang membuat pembaca merasakan kesedihan Nyai Dasima pada saat itu. 

beberapa kata rusak yang terselip di atas di beri tanda kutip, dan beberapa Anotasi :

Acan : saja
Angot : Kambuh
Ari : Hari
Aseran : Kata rusak dari kekerasan, lebih keras.
Baba : Bapa, panggilan pria yang dihormati
Babu : Pembantu yang mengurus dapur dan rumah bagian dalam
Bacot : Mulut, banyak bicara, besar omongan
Bahla : Keelakaan
Bakiak : Sandal dari kayu
Bande : Benda, harta barang, Kekayaan
Bangat : Sangat
Bangke Panas : Bangkai yang mati secara tidak wajar
Bebacaan : Membaca doa-doa, Membaca jampi
Beklai : Berkelahi
Bengkeng : Keras kepala, suka membantah, tak mau menurut perintah
Benteng prins Frederik : Sekarang Tempatnya digunakan untuk Masjid Istiqlal
Berabe : Susah atau sukar mengerjakannya
Bini Kawin : Istri sah
Boto : Bagus, cantik, elok rupanya dan bentuknya
Bures : habis sama sekali, tandas
Ceki : main judi dengan kartu
Cepo : Tidak punya Uang

...

"Nyai Dasima seorang yang Boto" 

Masih banyak lagi kata anotasi nya yang lucu kalau kita ucapkan secara "verbal : (oral/lisan)"

sekian

@odyady_

Comments

Popular posts from this blog

"Ananta Prahadi" sudah tersentuh

R.I.S.A.R.A